Tampilkan postingan dengan label Artikel Islami. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Artikel Islami. Tampilkan semua postingan

10 Nasehat Hasan Al-Banna


Berikut ini adalah nasehat-nasehat dari Imam Hasan Al Banna yaitu seorang mujahid dakwah, peletak dasar-dasar gerakan Islam sekaligus sebagai pendiri dan pimpinan Ikhwanul Muslimin di Mesir yang semoga sangat bermanfaat bagi kita semua.
* Lakukanlah shalat begitu kau dengar suara adzan ditempat apapun kau berada. Simaklah Al-Qur’an, renungkanlah isinya, dengarkanlah bacaannya, ingatlah akan kebesaran Allah. Jangan membuang-buang waktumu untuk urusan yang tak membawa manfaat.

* Rajin-rajinlah belajar berbicara bahasa Arab yang benar, ini merupakan tugas penting seorang Muslim.
* Jangan terlalu banyak berdebat tentang masalah apapun juga, karena tak ada untungnya menyombongkan diri
* Jangan terlalu banyak tertawa, hati yang dekat kepada Allah itu selamanya tenteram dan tunduk
* Jangan ikuti kecerobohan dan kesantaian masa lalu, perjuangan bangsa hanya mengenal kesungguhan
* Janganlah berbicara terlalu keras melebihi apa yang diperlukan pendengarmu, karena yang demikian itu tidak bijaksana dan menjengkelkan
* Hindarilah sikap menjelekkan orang di balik punggungnya, jangan berkata secara tak adil. Bicaralah yang baik-baik saja
* Bergaullah dengan siapa pun dengan membawa nama baik al-ikhwan sekalipun orang itu tidak mau memulainya terlebih dahulu, karena agama kita bersandar pada ilmu pengetahuan dan kasih sayang sebagai sokogurunya
* Utamakanlah tugas tanpa mengenal waktu. Tolong-menolonglah satu sama lain untuk kemashalatan bersama dari waktu yang tersedia dan bila ada urusan yang harus dikerjakan, maka selesaikanlah urusanmu itu


Adab Membaca Al-Qur'an


Al-Qur'an sebagai Kitab Suci, wahyu Ilahi, mempunyai adab tersendiri bagi orang-orang yang membacanya. Adab itu sudah diatur dengan sangat baik, untuk penghormatan dan keagungan Al-Qur'an, tiap-tiap orang harus berpedoman kepadanya dalam mengerjakannya.

Imam Al Ghazali di dalam kitabnya Ihya 'Ulumuddin menguraikan tata cara membaca Al-Qur'an. Imam Al Ghazali telah membagi adab membaca Al-Qur'an menjadi adab yang mengenal batin dan adab yang mengenal lahir.

Adab yang mengenal batin itu, diperinci lagi menjadi arti memahami asli kalimat, cara hati membesarkan kalimat Allah, menghadirkan hati di kala membaca sampai ke tingkat memperluas, memperhalus perasaan dan membersihkan jiwa. Dengan demikian, kandungan Al-Qur'an yang dibaca dengan perantaraan lida, dapat bersemi dalam jiwa dan meresap kedalam hati sanubari orang yang membacanya. Sebagai contoh, Imam Ghazali menjelaskan, bagaimana cara hati membesarkan kalimat Allah, yaitu bagi pembaca Al-Qur'an ketika dia memulainya, maka terlebih dahulu ia harus menghadirkan dlaam hatinya, betapa kebesaran Allah yang mempunyai kalimat-kalimat iyu. Dia harus yakin di dalam hatinya, bahwa yang dibacanya itu adalah kalam Allah Azza wa Jalla. Membesarkan kalam Allah itu, bukan saja dalam membacanya, tetapi juga menjaga tulisan-tulisan Al-Qur'an itu sendiri.

Adapun mengenai adab lahir dalam membaca Al-Qur'an, di antara yang terpenting ialah :
1. Disunatkan membaca Al-Qur'an sesudah berwudhu, dalam keadaan bersih, sebab yang dibaca adalah wahyu Allah. Kemudian mengambil Al-Qur'an hendaknya dengan tangan kanan, sebaiknya memegang dengan kedua tangan
2. Disunatkan membaca Al-Qur'an di tempat yang bersih. seperti di rumah, di mushalla dan di tempat lain yang di anggap bersih. Tapi yang paling utama adalah di Masjid.
3. Disunatkan membaca Al-Qur'an menghadap ke kiblat, membacanya dengan khusyu', tenang dan sebaiknya berpakaian dengan pantas.
4. Ketika membaca Al-Qur'an, mulut hendaknya bersih, tidak berisi makanan, sebaiknya sebelum membaca Al-Qur'an, mulut dan gigi dibersihkan terlebih dahulu.
5. Sebelum membaca Al-Qur'an, disunnahkan membaca Ta'awwudz yang berbunyi "A'udzubillahi minasy syaithanirrajim". Sesudah itu barulah di baca Bismillahirrahmanir Rahim. Maksudnya, di minta terlebih dahulu perlindungan Allah supaya terjauh dari tipu daya syaithan, sehingga hati dan fikiran tetap tenan di wakt membaca Al-Qur'an, terjauh dari gangguan atau godaan syaithan.
6. Disunatkan membaca Al-Qur'an dengan tartil, aitu dengan bacaan yang pelan-pelan dan tenang. Sesuai dengan firman Allah dalam Surat Al Muzammil ayat 4 yang artinya "....Dan bacalah Al-Qur'an itu dengan tartil"
Membaca dengan tartil itu lebih banyak memberi bekas dan mempengaruhi jiwa serta lebih mendapatkan ketenangan batin dan rasa hormat kepada Al-Qur'an.
7. Bagi orang yang sudah mengerti arti dan maksud Al-Qur'an, disunatkan membacanya dengan penuh perhatian dan pemikiran tentang ayat-ayat yang di bacanya itu dan maksudnya. Cara pembacaan inilah yang dikehendaki, yaitu lidahnya bergerak membaca, hatinya turut memperhatikan dan memikirkan arti dan maksud yang terkandung dalam ayat-ayat yang di bacanya.
8. Dalam membaca Al-Qur'an itu, hendaklah benar-benar di resapkan arti dan maksudnya. Terlebih apabila sampai pada ayat-ayat yang menggambarkan nasib-nasib orang-orang yang berdosa dan bagaimana hebatnya siksaan yang disediakan bagi mereka.
9. Disunatkan membaca Al-Qur'an dengan suara yang bagus lagi merdu.


Rukun Islam


1. Mengucapkan dua Kalimah Syahadat
2. Mendirikan Sahalat
3. Mengeluarkan Zakat
4. Puasa dalam bulan Ramadhan
5. Haji, bagi mereka yang mampu

1. Mengucapkan dua kalimah Syahadat
Hal ini berarti mengakui bahwa tidak ada Tuhan melainkan Allah SWT dan Nabi Muhammad SAW adalah Rasul-Nya. mengucapkan dua kalimah Syahadat juga harus disertai dengan melaksanakan perintah dan menjauhi larangan-larangan Allah SWT.
Tindakan yang wajib/fardhu adalah perbuatan yang di haruskan, yang apabila di tinggalkan mendapat siksaan, sedang apabila di laksanakan mendapat pahala.
Ada dua macam fardhu, yaitu fardhu 'ain dan fardhu kifayah. Fardhu 'ain adalah wajib bagi tiap-tiap muslim. contoh, shalat itu wajib bagi tiap-tiap muslim. sedangkan fardhu kifayah adalah apabila telah dilakukan oleh seseorang, maka masyarakat islam yang lainnya bebas dari kewajiban itu. contoh, Shalat jenazah.
Tindakan yang haram ialah tindakan yang dilarang oleh Allah SWT yang apabila ditinggalkan mendapat pahala, sedang apabila dilaksanakan akan mendapat siksaan.

2. Shalat
shalat menurut Al-Qur'an adalah alat sesungguhnya untuk mensucikan hati manusia agar dapat berhubungan dengan Allah SWT.
Seperti yang telah ada dalam Firman Allah SWT di Surat Al Ankabut ayat 45 yang artinya :
"Bacakanlah apa yang telah diwahyukan kepadamu dari Al Kitab dan dirikanlah shalat, sesungguhnya shalat itu mencegah manusia dari perbuatan yang keji dan munkar. dan sesungguhnya ingat kepada Allah adalah lebih besar (manfaatnya). dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan"
Shalat adalah perbuatan rohaniyah dan juga jasmaniyah manusia. sebagaimana badan manusia memerlukan makanan,, maka jiwa manusia memerlukan makanan pula. Lima kali dalam sehari semalam seorang Muslim wajib mengerjakan shalat.

3. Puasa
Puasa di wajibkan oleh Allah SWT seperti dalam Al-Qur'an surat Al-Baqarah ayat 183 yang artinya :
"Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu, agar kamu bertaqwa"
puasa adalah alat untuk mensucikan jiwa manusia, agar dapat menghindarkan diri dari perbuatan jahat. Puasa tidak hanya menjauhkan diri dari makanan dan minuman, tetapi juga menjauhkan diri dari segala macam perbuatan yang haram.
Selanjutnya puasa selain untuk melatih diri menghadapi lapar dan dahaga, mengekang hawa nafsu, juga untuk dapat merasakan bagaimana sedihnya orang yang miskin yang sedang merasakan lapar dan dahaga, hingga dapat menimbulkan rasa belas kasihan pada si miskin. selain itu puasa baik pula bagi kesehatan manusia.
Puasa dilakukan dalam bulan Ramadhan yang lamanya 29 hari atau 30 hari.

4. Zakat
Kasih sayang pada sesama manusia, dianjurkan pula oleh agama-agama yang lain, tetapi Islam mewajibkan pada penganut-penganutnya untuk memberikan zakat pada golongan-golongan tertentu. Seperti dalam Surat At Taubah ayat 60 yang artinya :
"Sesungguhnya zakat-zakat itu hanyalah untuk orang-orang fakir, orang-orang miskin, pengurus-pengurus zakar, para muallaf yang dibujuk hatinya, untuk (memerdekakan) budak, orang-orang yang berhutang untuk jalan Allah dan orang-orang yang sedang dalam perjalanan sebagai suatu ketetapan yang diwajibkan oleh Allah dan Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana"
8 golongan yang menerima zakat :
1. Fakir
2. Miskin
3. Pengurus zakat
4. Muallaf
5. Memerdekakan budak
6. Orang yang berhutang untuk keperluan agama
7. Orang yang sedang dalam perjalanan yang bukan maksiat, yang memerlukan pertolongan
8. Fii sabilillah yaitu untuk keperluan keagamaan dan kepentingan umat islam seperti membangun gedung pendidikan, rumah sakit dll

5. Haji
Haji diwajibkan kepada yang mampu sesuai firman Allah dalam Al-Qur'an Surat Ali Imran ayat 97 yang artinya :
"......mengerjakan haji adalah kewajiban manusia terhadap Allah, yaitu (bagi) orang yang sanggup mengadakan perjalanan kepadanya......."
syarat-syarat orang yang wajib beribadah Haji :
1. Dia dalam keadaan sehat
2. Perjalanannya aman
3. Ada kesanggupan untuk membiayai perjalanan dan memberi nafkah kepada keluarga yang menjadi tanggungannya selama pergi haji.


Rukun Iman


Sebagai salah satu syarat dari iman adalah adanya keyakinan. Dan keyakinan tersebut dapat muncul dari pengetahuan atau ilmu tentang hal tersebut. Dan masalah tersebut telah dijelaskan oleh para ulama dengan penjelasan yang tuntas dan sangat jelas bagi umat.

Iman kepada Allah Subhanallohu wa Ta’ala
Kita mengimani Rububiyah Allah Subhanahu Wa Ta’ala, artinya bahwa Allah adalah Rabb: Pencipta, Penguasa dan Pengatur segala yang ada di alam semesta ini. Kita juga harus mengimani uluhiyah Allah Subhanahu Wa Ta’ala artinya Allah adalah Ilaah (sembahan) Yang hak, sedang segala sembahan selain-Nya adalah batil. Keimanan kita kepada Allah belumlah lengkap kalau tidak mengimani Asma’ dan Sifat-Nya, artinya bahwa Allah memiliki Nama-nama yang maha Indah serta sifat-sifat yang maha sempurna dan maha luhur.

Dan kita mengimani keesaan Allah Subhanallohu wa Ta’aladalam hal itu semua, artinya bahwa Allah Subhanallohu wa Ta’ala tiada sesuatupun yang menjadi sekutu bagi-Nya dalam rububiyah, uluhiyah, maupun dalam Asma’ dan sifat-Nya.

Firman Allah Subhanahu Wa Ta’ala, yang artinya: “(Dia adalah) Tuhan seluruh langit dan bumi serta semua yang ada di antara keduanya. Maka sembahlah Dia dan berteguh hatilah dalam beridat kepada-Nya. Adakah kamu

mengetahui ada sesuatu yang sama dengan-Nya (yang patut disembah)?”. (QS. Maryam:65)
Dan firman Allah, yang artinya: “Tiada sesuatupun yang serupa dengan-Nya. Dan Dia-lah yang maha mendengar lagi Maha melihat”. (QS. Asy-Syura:11)

Iman Kepada Malaikat

Bagaimana kita mengimani para malaikat ? mengimani para malaikat Allah yakni dengan meyakini kebenaran adanya para malaikat Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Dan para malaikat itu, sebagaimana firman-Nya, yang artinya: ”Sebenarnya (malaikat-malaikat itu) adalah hamba-hamba yang dimuliakan, tidak pernah mereka itu mendahului-Nya dengan perkataan dan mereka mengerjakan perintah-perintah-Nya.” (QS. Al-anbiya: 26-27)

Mereka diciptakan Allah Subhanahu Wa Ta’ala, maka mereka beribadah kepada-Nya dan mematuhi segala perintah-Nya. Firman Allah Subhanahu Wa Ta’, yang artinya: ” …Dan malaikat-malaikat yang disisi-Nya mereka tidak bersikap angkuh untuk beribadah kepada-Nyadan tiada (pula) merasa letih. Mereka selalu bertasbih malam dan siang tiada henti-hentinya.“ (QS. Al-Anbiya: 19-20).

Iman Kepada Kitab Allah
Kita mengimani bahwa Allah Subhanahu Wa Ta’ala telah menurunkan kepada rasul-rasul-Nya kitab-kitab sebagai hujjah buat umat manusia dan sebagai pedoman hidup bagi orang-orang yang mengamalkannya, dengan kitab-kitab itulah para rasul mengajarkan kepada umatnya kebenaran dan kebersihan jiwa mereka dari kemuysrikan. Firman Allah Subhanahu Wa Ta’, yang artinya: ”Sungguh, kami telah mengutus rasul-rasul kami dengan membawa bukti-bukti yang nyata dan telah kami turunkan bersama mereka Al-kitab dan neraca (keadilan) agar manusia melaksanakan keadilan… “ (QS. Al-Hadid: 25)

Dari kitab-kitab itu, yang kita kenal ialah :
*Taurat, yang Allah turunkan kepada nabi Musa alaihi sallam, sebagaimana firman Allah dalam QS Al-Maidah: 44.
*Zabur, ialah kitab yang diberikan Allah Subhanahu Wa Ta’ala kepada Daud alaihi sallam.
*Injil, diturunkan Allah kepada nabi Isa, sebagai pembenar dan pelengkap Taurat. Firman Allah : ”…Dan Kami telah memberikan kepadanya (Isa) injil yang berisi petunjuk dan nur, dan sebagai pembenar kitab yang sebelumnya yaitu Taurat, serta sebagai petunjuk dan pengajaran bagi orang-orang yang bertaqwa.” (QS : Al-Maidah : 46)
*Shuhuf, (lembaran-lembaran) yang diturunkan kepada nabi Ibrahim dan Musa, ‘Alaihimas-shalatu Wassalam.
*Al-Quran, kitab yang Allah Subhanahu Wa Ta’ala turunkan kepada Nabi Muhammad shalallohu ‘alahi wa sallam, penutup para nabi. Firman Allah Subhanahu Wa Ta’ala, yang artinya: ” Bulan Ramadhan yang diturunkan padanya (permulaan) Al-Quran sebagai petunjuk bagi umat manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda antara yang haq dan yang batil…” (QS. Al Baqarah: 185).


Iman Kepada Rasul-Rasul

Kita mengimani bahwa Allah Subhanahu Wa Ta’ala telah mengutus rasul-rasul kepada umat manusia, Firman Allah Subhanahu Wa Ta’ala, yang artinya: ” (Kami telah mengutus mereka) sebagai rasul-rasul pembawa berita genbira dan pemberi peringatan, supaya tiada alasan bagi manusia membantah Allah sesudah (diutusnya) rasul-rasul itu. Dan Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” (QS. AN-Nisa: 165).

Kita mengimani bahwa rasul pertama adalah nabi Nuh dan rasul terakhir adalah Nabi Muhammad shalallahu ‘alahi wa sallam, semoga shalawat dan salam sejahtera untuk mereka semua. Firman Allah Subhanahu Wa Ta’ala, yang artinya: ”Sesungguhnya Kami telahmewahyukan kepadamu sebagaimana Kami telah mewahyukan kepada Nuh dan nabi-nabi yang (datang) sesudahnya…” (QS. An-Nisa: 163).

Iman Kepada Hari Kiamat
Kita mengimani kebenaran hari akhirat, yaitu hari kiamat, yang tiada kehidupan lain sesudah hari tersebut. Untuk itu kita mengimani kebangkitan, yaitu di hidupkannya semua mahkluk yang sesudah mati oleh Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Firman Allah Subhanahu Wa Ta’ala, yang artinya:”Dan ditiuuplah sangkakala, maka matilah siapa yang ada dilangit dan siapa yang ada di bumi kecuali yang dikehendaki Allah. Kemudian ditiup sangkakala itu sekali lagi, maka tiba-tiba mereka bangkit menunggu (putusannya masing-masing).” (QS. Az-Zumar: 68)

Kita mengimani adanya catatan-catatan amal yang diberikan kepada setiap manusia. Ada yang mengambilnya dengan tangan kanan dan ada yang mengambilnya dari belakang punggungnya dengan tangan kiri. Firman Allah Subhanahu Wa Ta’ala, yang artinya: ” Adapun orang yang diberikan kitabnya dengan tangan kanannya, maka dia akan diperiksa dengan pemeriksaan yang mudah dan dia akan kembali kepada kaumnya (yang sama-sama beriman) dengan gembira. Adapun orang yang diberikan kitabnya dari belakang punggungnya, maka dia akan berteriak celakalah aku dan dia akan masuk neraka yang menyala.” (QS. Al-Insyiqaq: 13-14).

Iman Kepada Qadar Baik dan Buruk
Kita juga mengimani qadar (takdir) , yang baik dan yang buruk; yaitu ketentuan yang telah ditetapkan Allah untuk seluruh mahkluk-Nya sesuai dengan ilmu-Nya dan menurut hikmah kebijakan-Nya.

Iman kepada qadar ada empat tingkatan:
1.Ilmu
ialah mengimani bahwa Allah Maha tahu atas segala sesuatu,mengetahui apa yang terjadi, dengan ilmu-Nya yang Azali dan abadi. Allah sama sekali tidak menjadi tahu setelah sebelumnya tidakmenjadi tahu dan sama sekali tidak lupa dengan apa yang dikehendaki.
2.Kitabah
ialah mengimani bahwa Allah telah mencatat di Lauh Mahfuzh apa yang terjadi sampai hari kiamat. Firman Allah Subhanahu Wa Ta’ala, yang artinya: ”Apakah kamu tidak mengetahui bahwa Allah mengetahui apa yang ada di langit dan di bumi. sesungguhnya tu (semua) tertulis dalam sebuah kitab (Lauh Mahfuzh). Sesungguhnya Allah yang demikian itu amat mudah bagi Allah.” (QS. Al-Hajj: 70)
3.Masyi’ah
ialah mengimani bawa Allah Subhanahu Wa Ta’ala. telah menghendaki segala apa yang ada di langit dan di bumi, tiada sesuatupun yang terjadi tanpa dengan kehendak-Nya. Apa yang dikehendaki Allah itulah yang terjadi dan apa yang tidak dikehendaki Allah tidak akan terjadi.
4.Khal
Ialah mengimani Allah Subhanahu Wa Ta’ala. adalah pencipta segala sesuatu. Firman Allah Subhanahu Wa Ta’ala, yang artinya: ” Alah menciptakan segala sesuatu dan Dia memelihara segala sesuatu. Hanya kepunyaan-Nyalah kunci-kunci (perbendaharaan) langit dan bumi.” (QS. Az-Zumar: 62-63).

Beribadah Kepada Allah SWT


"Dan tidak Aku ciptakan Jin dan Manusia melainkan agar mereka menyembah-Ku" (QS. Ad-Dzariat : 56).

Melalui Surat Ad Dzariyat ayat 56 di atas Allah SWT menegaskan tentang maksud dan tujuan diciptakannya Jin dan Manusia, yaitu agar mereka beribadah kepada Allah SWT.
Ayat di atas juga dapat ditafsirkan, bahwa setiap makhluk dari golongan Jin dan Manusia hendaknya tunduk kepada keputusan Allah, patuh kepada kehendak-Nya serta menuruti apa yang telah Dia takdirkan. Allah menciptakan mereka menurut apa yang Dia kehendaki dan Allah memberi rizki kepada mereka menurut keputusan-Nya. Tidak seorangpun di antara mereka yang dapat memberi manfaat maupun mudharat kepada dirinya sendiri.

karena itu semua makhluk harus tunduk dan patuh pada peraturan dan kehendak Allah SWT. Sikap dan jiwa yang demikian itu menyebabkan manusia harus mengabdi dan beribadah semata-mata karena Allah SWT.

Pengertian ibadah adalah "Mendekatkan diri kepada Allah dengan jalan mentaati segala perintah-perintah-Nya, menjauhi setiap larangan-larangan-Nya dan mengamalkan apa yang diizinkan Allah SWT. Ibadah ada yang bersifat umum dan ada pula yang beribadah khusus. Yang umum ialah segala amalan yang diizinkan oleh Allah SWT. Sedangkan yang khusus, ialah apa yang telah ditetapkan akan segala perinciannya, tingkah laku dan caranya".


Adab Bergaul Dengan Orang Yang Lebih Tua


Bagi orang yang lebih muda, menghormati orang yang lebih tua merupakan suatu kewajiban, karena pada dasarnya orang yang lebih tua telah berjasa mewariskan sesuatu yang lebih bermanfaat bagi perkembangan generasi selanjutnya. Karena kemajuan suatu generasi adalah berkat apa yang pernah dicapai oleh generasi sebelumnya.

Didalam agama Islam, menghormati orang yang lebih tua usianya merupakan kewajiban yang telah ditetapkan oleh Allah SWT. Artinya Allah memberikan pahala yang besar kepada orang muda yang berlaku hormat kepada orang yang lebih tua usianya.

Rasulullah SAW bersabda yang artinya :
"Sebagian dari tanda memuliakan Allah, yaitu menghormati orang muslim yang telah putih rambutnya" (HR. Abu Dawud)
Hadis diatas menyatakan, bahwa seorang muslim harus menghormati orang muslim yang lebih tua usianya. Jadi yang dimaksud dengan putih rambutnya diatas adalah mereka yang lebih tua usianya.

Orang-orang yang lebih tua dari kita yang paling dekat dan yang paling berhak diutamakan untuk dihormati adalah kedua orang tua kita. Kepada kedua orang tua kita, Allah tidak hanya memerintah kita untuk berbuat baik, tetapi juga memerintahkan kita untuk menghormati dan berbakti kepada mereka. Hal tersebut berdasarkan firman Allah SWT di Surat Al Isra' ayat 23-24 yang artinya sebagai berikut :
"Dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik kepada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya. Jika salah satu diantara keduanya atau kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharanmu, maka janganlah sekali-kalikamu mengatakan kepada keduanya dengan perkataan "Ah" dan janganlah kamu membentak. dan ucapkanlah kepada mereka perkataan-perkataan yang mulia. Dan rendahkanlah dirimu terhadap mereka berdua dengan penuh kasih sayang dan ucapkanlah "Wahai Tuahnku, kasihilah mereke keduanya sebagaimana mereka berdua telah mendidik aku waktu kecil"

Selain kedua orang tua kita, kita juga wajib hormat dan berbuat baik, merendah diri, berkata jujur dan mulai serta tidak menyakiti hati kepada saudara-saudara dan teman-teman Bapak dan Ibu. Seperti dalam hadist Nabi SAW yang artinya :
"Bibi (Saudara perempuan ibu atau bapak) itu sama dengan kedudukan ibu" (HR. Tirmidzi)
"Dari Ibnu Umar RA, ia berkata, Nabi SAW bersabda "Sebaik-baik berbakti seseorang ialah menghubungi teman-teman ayahnya"


Adab Bergaul Dengan Orang Yang Sebaya Dengan Kita


1. Hendaknya masing-masing dari kita jangan merasa dirinya lebih kuat, lebih pintar dan lebih berpengalaman dari yang lain. Karena pada prinsipnya manusia itu sama derajatnya. Rasulullah SAW bersabda yang artinya sebagai berikut :
"Manusia itu adalah bagaikan gigi sisir dalam persamaan (Saling butuh membutuhkan)" (HR. Abu Dawud)

2. Kita harus menjalin hubungan yang harmonis, sehingga terwujud persatuan dan kesatuan. Sebagaimana Sabda Rasulullah SAW yang artinya :

"Seorang mukmin dengan mukmin lainnya bagaikan satu bangunan, dimana satu sama lain saling menguatkan" (HR. Bukhari Muslim)

3. Kita harus menghormati seseorang menurut keadaannya. Misalnya kita menghadapi guru yang walaupun mungkin usianya sebaya dengan kita, tetapi sesuai dengan kedudukannya seorang murid terhadap guru harus tetap hormat layaknya seorang murid terhadap gurunya.

4. Dalam pergaulan dengan teman sebaya, hendaknya menjaga batas-batas kesopanan dan tidak melanggar norma-norma agama. Misalnya pergaulan muda-mudi yang tidak mengenal batas, sehingga terjadi hubungan bebas yang melanggar hukum-hukum agama. Rasulullah SAW bersabda yang artinya sebagai berikut :
"Dari Ibnu Abbas RA, ia berkata, Rasulullah SAW bersabda, "Janganlah sekali-kali kamu berkhalwat (sendirian ditempat yang sepi) dengan seorang perempuan, kecuali dengan muhrimnya". (HR Bukhari Muslim)


Adab Bergaul Dengan Orang Yang Lebih Muda


Bergaul dengan orang yang lebih muda sangat penting artinya. Karena di dalam pergaulan itulah nantinya akan terjadi proses pendidikan yang sangat besar pengaruhnya bagi perkembangan pribadi generasi muda. Generasi muda adalah generasi penerus yang memiliki potensi, kemampuan tenaga, pikiran, sumber daya dan cita-cita yang tinggi.

Untuk mempersiapkan generasi penerus yang lebih baik, maka sangat diperluakan pemeliharaan dan perlindungan. Mereka perlu dibimbing dan dikembangkan bakat mereka dengan baik, keberanian, kejujuran, kedisiplinan dan rasa tanggung jawab, sehingga mereka nantinya benar-benar menjadi generasi penerus yang tangguh dan kuat dalam lahir maupun batin.

Orang yang lebih muda perlu mendapat perlindungan untuk menjaga kelangsungan hidup dan pertumbuhannya. Karena dalam pergaulan masyarakat, semua bagian masyakarakat adalah sama penting menurut kedudukannya masing-masing.


Adab Bergaul Dengan Orang Yang Beda Agama


1. Umat Islam hendaknya tetap berpegang teguh kepada aqidah dan keyakinannya. Jangan terpengaruh atau dipengaruhi oleh orang lain. Allah SWT telah memberikan pedoman dalam hal tersebut dalam Surat Al-Kafirun.

2. Toleransi antar umat beragama itu diperbolehkan dalam Islam. Rasulullah SAW seringkali mengadakan kunjungan silaturrahmi kepada ahli-ahli Kitab (Yahudi dan Nasrani), menjenguk orang-orang sakit, melayat orang yang beragama lain yang meninggal bahkan turut mengantarkan orang-orang yang beragama lain sampai ke liang lahat. Akan tetapi, kalau sudah sampai kepada hal-hal yang bersifat ibadah ritual, seperti mendoakan orang mati yang menganut agama lain, maka hal itu bertentangan dengan aqidah Islam. Firman Allah SWT di Surat At-Taubah ayat 113 :



Artinya :
"Tidaklah sepatutnya bagi Nabi dan orang-orang yang beriman memintakan (mendoakan) ampun kepada Allah bagi orang-orang musyrik itu adalah kaum kerabat, sesudah jelas bagi mereka bahwa orang-orang musyrik itu adalah pengisi neraka jahannam"

3. Bahwa orang mukmin dilarang mengangkat orang-orang kafir sebagai pemimpin, sedangkan masih ada orang Islam yang layak jadi pemimpin. Firman Allah SWT dalam surat Ali Imran ayat 28 :

Artinya :
"Janganlah orang-orang mukmin mengambil orang-orang kafir menjadi wali dengan meninggalkan orang-orang mukmin. Barangsiapa berbuat demikian, niscaya lepaslah ia dari pertolongan Allah, kecuali karena (siasat) memelihara dari sesuatu yang diikuti dari mereka. Dan Allah memperingatkan kamu terhadap diri (siksan)-Nya. Dan hanya kepada Allah kembali"